“Suatu hari seorang pemuda melihat seorang wanita tua, berdiri di pinggir jalan, tetapi meskipun dalam keremangan, pemuda itu bisa melihat kalau wanita itu sedang membutuhkan pertolongan. Jadi dia keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah depan mobil mercedes wanita tua itu. Mesin mobil VW pemuda tersebut masih menyala ketika dia berjalan mendekati wanita tua tersebut.
Sekalipun wajah pemuda tersebut tersenyum, tetapi si wanita tua itu tetap menunjukkan raut wajah cemas. Sudah satu jam lebih dia berdiri di situ, tetapi tidak ada satu orangpun yang berhenti untuk menolongnya. Apakah laki-laki itu berniat menyakiti wanita tua tersebut? Laki-laki tersebut tidak terlihat bersahabat; dia kelihatan miskin dan lapar.
Pemuda itu tahu kalau si wanita tua tersebut sedang ketakutan, berdiri diluar dalam cuaca malam yang dingin. Laki-laki itu tau apa yang sedang dirasakan oleh wanita tua itu. Hanya situasi yang seperti itu yang bisa membuat orang merasa ketakutan seperti yang dirasakan oleh wanita tua tersebut.
Laki-laki itu berkata, “saya disini untukmenolong anda bu. Silahkan ibu tunggu sambil duduk di dalam mobil saja biar tidak kedinginan. Oiya, nama saya Adam.”
Sebetulnya mobil wanita tua tersebut hanya bocor ban, tetapi bagi seorang wanita tua, itu sudah sangat menyulitkan. Adam kemudian masuk ke bawah mobil dan mulai mencari tempat untuk memasang dongkrak dan mengganti ban mobil wanita tua tersebut. Tidak lama kemudian dia sudah selesai mengganti ban yang bocor itu. Tetapi dia menjadi kotor dan tangannya terluka.
Ketika si Adam sedang mengencangkan baut-baut roda, wanita tua itu menurunkan kaca jendela mobilnya dan mulai berbicara ke si Adam. Wanita tua itu menceritakan kalau dia berasal dari kota sebelah dan sedang melintas daerah itu. Dan wanita itu tidak tahu harus berterimakasih seperti apa kepada si Adam atas pertolongan yang diberikannya.
Adam hanya tersenyum ketika dia menutup bagasi mobil wanita tua tersebut. Wanita tua itu menanyakan berapa uang yang harus dia bayarkan kepada si Adam. Berapapun jumlahnya akan dia berikan dan tak jadi masalah baginya. Wanita tua itu sudah membayangkan semua hal terburuk yang bisa saja terjadi padanya jika si Adam tidak berhenti dan menolongnya. Adam tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya untuk meminta bayaran dari wanita tua tersebut. Ini bukan pekerjaannya. Ini hanya sekedar bantuan yang dia berikan kepada seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan, Tuhan juga tahu kalau sebelumnya ada banyak sekali orang-orang yang telah memberikannya bantuan ketika dia membutuhkan. Adam sudah menjalani hidup dengan cara yang seperti itu sepanjang hidupnya, dan dia tidak akan mengubahnya.
Adam memberitahukan wanita tua itu, jika dia benar-benar ingin membalas jasanya, maka dia bisa membantu orang lain jika suatu ketika wanita tua itu menjumpai seseorang yang membutuhkan pertolongannya, dan si Adam menambahkan, “Dan Ingatlah saya”.
Adam menunggu wanita tua itu hingga dia men-starter mobilnya dan melaju hilang dalam kegelapan. Ini merupakan benar-benar hari yang melelahkan baginya dan cuaca sangat dingin, tapi dia juga merasa senang karena dia sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya.
Beberapa mil jaraknya setelah wanit tua itu meneruskan perjalanannya dia melihat sebuah warung yang masih terbuka. Kemudian dia singgah untuk mencari makanan yang bisa dimakan untuk mengganjal perutnya yang terasa lapar, dan untuk sedikit bersantai untuk menghilangkan ketegangan yang dirasakannya tadi sebelum dia melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya. Warung itu terlihat kotor dan kumuh. Semua pemandangan yang ada di warung itu terlihat asing bagi wanita tua tersebut. Pelayan warung itu mendatangi wanita tua tersebut dan membawakannya selembar handuk bersih untuk mengelap kepalanya yang basah karena kehujanan. Pelayan warung itu memiliki senyuman manis yang tak mungkin terhapus di wajahnya, Wanita tua itu kemudian menyadari kalau pelayan warung itu sedang hamil menjelang 8 bulan, tetapi itu tidak membuat pelayan warung itu kehilangan senyum manisnya meskipun sedang merasa sakit dan pegal. Wanita tua itu bertanya-tanya pada dirinya bagaimana mungkin orang yang miskin bisa memberikan hal seperti ini kepada orang asing seperti dia.
Kemudian dia teringat si Adam.
Setelah wanita tua itu selesai makan, dia membayarnya dengan selembar uang seratus ribu.
Pelayan warung itu kemudian pergi untuk mengambil kembaliannya, tetapi
Wanita tua tadi sudah beranjak keluar pintu. Dwanita tua itu sudah pergi ketika pelayan warung itu kembali. Pelayan itu bingung dimana wanita tua tadi. Kemudian dia melihat ada sebuah tulisan di serbet yang terletak di meja.
Pelayan warung itu menitikkan air mata ketika membaca tulisan yang ditinggalkan oleh wanita tua tadi: “Kamu tidak perlu merasa berhutang apa-apa dengan saya. Saya juga sudah pernah merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan sekarang. Seseorang telah membantu saya, seperti cara saya membantu kamu. Jika kamu benar-benar ingin membalas kebaikan saya, yang kamu harus lakukan adalah: Jangan biarkan rantai kasih sayang untuk saling membantu seperti ini terputus dan terhenti sampai disini saja.”
Di bawah serbet itu terdapat uang seratus ribu 4 lembar lagi.
Lalu wanita hamil pelayan warung itu kembali melanjutkan rutinitasnya di warung, membersihkan meja, dan melayani pesanan dari orang-orang lainnya yang sedang singgah di warungnya seperti hari-hari lain yang telah dilewatinya.
Malam itu ketika wanita pelayan warung itu pulang kerja dan hendak tidur, dia teringat kembali tentang uang dan catatan kecil yang ditinggalkan oleh wanita tua tadi. Bagaimana mungkin si wanita tua itu tadi bisa tahu jumlah uang yang sedang dia dan suaminya butuhkan? Dengan bayi yang akan lahir bulan depan, kondisi keuangan mereka memang benar-benar dalam kesulitan…
Wanita pelayan warung itu tau persis kekhawatiran yang sedang dirasakan suaminya, dan suaminya itu sekarang sedang tertidur pulas di sisinya, lalu kemudian dia mencium kening suaminya dan berbisik dengan lembut, “Semuanya akan baik-baik saja. Aku mencintaimu Adam.”
=Selesai=
*Rawa Sakti Coffee, 12 Desember 2011, 5:40 pm




terharuu bacanyaaa…
endingnya bener2 gak ketebak. bagus banget mas tulisannya..
subhanallah… bagus banget
amal yg baik tidak akan kemana, akan kembali kepemiliknya
sesuai judul postingannya “Apa yang diberi, pasti akan kembali”
nice story mengugah jiwa untuk selalu membantu tanpa mngharap imbalan…ibrah yag didapat sungguh laur biasa
cerita yang menarik sob.. mari membantu sesama tanpa mengharap imbalan,.. biarkan Allah yang mengatur dan memberikan balasannya..
wah.. aq ampek menitikkan aer mata…huhhuhuhu
semua kebaikan akan terbayar, walau dengan cara yang lain..
baguusss banggeeeeeeeeetttt >.<
Allah selalu membalas lebih dari yang kita berikan
ah..kalian semua..lebay deeehhhh….. wkakakakakaka