cerita tentang seorang ‘Teman’ (part III-akhir)

Posted: June 21, 2011 in All Post

“Selamat malam, pemirsa. Hari ini bersama saya, si HiuMerah, selama beberapa menit kedepan saya kembali menyuguhkan kisah teman-teman saya, serta mengangkat hal-hal yang dianggap tabu, menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan. Semua akan kita kupas tajam, setajam… Pisau cukur!”

senang bisa kembali menyapa, dari kota yang tak seberapa mana ini 😀

setelah seharian hari ini bergelut dengan ‘nesis’ sepertinya ini waktunya untuk istirahat sejenak, tambahkan kopi ke gelas bakar dupa dan mari kita bercerita lagi..

Masih ingat dengan cerita tentang teman si hiu, “Mr. T” yang suka melintir rambut itu?? mari kita selesaikan cerita tentangnya di part III (final) malam ini agar arwahnya tenang di seberang sana..

sebetulnya ada beberapa topik yang sihiu bingung milihnya (macam selebritis aja tu orang). Berhubung di part II si hiu menyinggung tentang idealismenya yang tinggi dalam melakukan aksi-aksi jadi si hiu memutuskan untuk mengangkat topik DEMONSTRASI dan AKSI di cerita Mr.T bahagian terakhir ini..

Begini ceritanya…

FKIP Unsyiah saat itu selalu dianggap anak tiri, dengan fasilitas ala kadarnya yang membuat para mahasiswanya agak kecewa dengan pihak penguasa kampus. Pagi itu Mr.T melihat seorang aktifis kampus sibuk mengumpulkan mahasiswa, meskipun dia tak tahu pasti tujuannya, dan tanpa banyak tanyak, langsung saja dia ikut bergabung. Akhirnya mereka menuju depan biro rektor unsyiah. Dalam orasinya, pria bermancung giginya itu mengatakan : Hari ini kita minta keadilan dari pihak Rektorat, saia telah bertemu dengan Dubes Amerika, Australia, dan Inggris dan telah menceritakan kondisi gedung FKIP tercinta. Begitu petikan orasi yang hingga saat ini terekam di kepalanya. Itulah hari pertama dia mengenal dunia parlemen jalanan. Belakangan setelah mengenal orang tersebut, dia tahu bahwa ucapan itu hanya gertak sambal untuk menampar biro rektor yang angkuh saat itu.

Demo di Hari Kelahiran

Demo diluar kampus yang paling diingatnya adalah demo disaat hari ulang tahunya sendiri. Beberapa hari sebelum demo, Mr.T sempat berdiskusi dengan beberapa kawan – kawan maupun adek letting kampusnya, dan sesungguhnya isu demo yang akan diangkat tentang kenaikan BBM. Beberapa diantara mereka memang orator ulung dan juga beberapa adek letting yang baru saja menginjakkan kakinya di unsyiah.

Dana selalu jadi masalah klasik dalam setiap gerakan (maklum anak kos, awal bulan makan ayam, akhir bulan makan calon anak ayam, atau bahkan kadang hanya makan indomie), karena demo waktu itu memang tanpa paksaan maupun difasilitasi pihak tertentu. Seorang teman Mr.T yang juga seorang ‘toke’ dengan ikhlas menyiapkan mobil pick-up nya untuk mengangkut massa. Aksi pun mereka lakukan, dan dengan massa yang tidak begitu banyak, tapi mantapya lagi pengiring mereka adalah mahasiswi yang berkendaraan roda dua.

Penuh semangat, mereka pun menuju gedung DPRA, walaupun rintik hujan membasahi bumi, tetapi itu tidak melemahkan perjuangan mereka hari itu. Mereka membakar ban kreta yang menjadikan aksi semakin memanas. Setelah aksi selesai mereka lakukan, ditengah perjalanan menuju kampus tanpa dikomandoi, teman – teman yang tadi ikut serta dalam melakukan aksi mengucapkan selamat ulang tahun untuk Mr.T. Sungguh bahagia sepertinya Mr.T hari itu (lagi-lagi rambut yang jadi korban pelintiran jari-jarinya), ternyata diantara teman-temannya yang sama-sama turun ke jalan untuk melakukan aksi bersamanya ada yang mengingat hari kelahirannya.

Jika biasanya kue tar atau sejenisnya di hari ulang tahun seseorang, maka yang mereka persembahankan hari itu adalah sebuah spirit tanpa kenal pamrih dalam mendukungnya berjuang dengan cara yang sesuai dengan ‘identitas’nya. Bahkan seorang adek letting rela mengeluarkan sedikit uangnya untuk mengisi bensin pick-up. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Mr.T waktu itu, yang ada hanya pancaran sinar mata dan rambut yang kena pelintit menyiratkan kebahagiaan dan ungkapan rasa Terima kasih buat kawan – kawan yang merayakan ulang tahunnya di gedung DPRA dan bundaran simpang lima dengan cara melakukan aksi turun ke jalan.

*Tapi belakangan banyak juga kawan2 yang palak setelah mengetahui sepertinya ada konspirasi dalam penetapan tanggal aksi bertepatan dengan ulang tahunnya Mr.T — wkwkwkw – (bacanya: hahahahahhaa….alias ketawa)

Saat Jadi Pimpinan Aksi

Saat itu sebagai ketua Umum ESA, Mr.T memiliki perbedaan pandangan dengan BEM FKIP Unsyiah (biasa lah, kalo sama warna kan gak meriah). Namun bukan berarti mereka saling menghujat apalagi mencaci. Belakangan beberapa ketua himpunan yang tidak puas dengan BEM saat itu datang pada Mr.T dan meminta solusi atas persoalan kampus, dan Mr.T memutuskan untuk mengadakan rapat di RKU III.

Dalam rapat tersebut mereka membentuk Forum yang mereka beri nama FORSIMAPED-FKIP. Secara kebetulan Mr.T didaulat menjadi pimpinan forum tersebut. Hasil rapat memutuskan akan dilakukan aksi esok harinya di depan biro rektor. Lagi2, persoalan dana menghambat gerakan mereka saat itu, lalu muncul ide khasnya Mr.T untuk menemui Pembantu Dekan hari itu juga. Saat menemui pembantu dekan, mereka katakan maksud kedatangan mereka. Ini sedikit sedikit dialog hari itu yang terjadi antara Mr.T dan pak PD.

Mr.T : ”Pak, beberapa ketua Himpunan di FKIP ingin perubahan di FKIP dengan melakukan aksi”.

PD3: jangan, ngapain?kan gak baik gitu. Kita kan maunya FKIP damai selalu.

Mr.T : kalo begitu, bapak harus bantu kami untuk mengumpulkan ketua- ketua Himpunan, bapak kan tahu, untuk itu kami butuh dana *(padahal dananya buat demo dekanan)

PD3 : tanpa ragu beliau (sekarang beliau sudah alm) mengeluarkan uang sebanyak 300 rb. (kena dech lho pak)

Selanjutnya, dengan wajah riang merekapun segera membeli kartoon, spidol dan menyewa damri untuk aksi esok hari. Aksi pun mereka lakukan. Dan setelah aksi demonstrasi selesai mereka lakukan pak PD3 menjumpai Mr.T, dan berkata:

PD3 : katanya mau buat diskusi, tapi kok malah jadi demo?

Mr.T: Iya pak, benar pak diskusi, dan hasilnya kami harus lakukan aksi.

PD3 : *Sambil tersenyum : alahai nak, pinter kali bersilat lidah, tapi ya sudahlah.

Itulah kisah pertama kali Mr.T memimpin aksi demonstrasi, dan setelah aksi pertamanya itu pihak rektorat memanggilnya untuk menghadap, ada tawaran menggiurkan. Dan itu ternyata tawaran yang didapatkan oleh para pemimpin-pemimpin aksi sebelumnya. Katanya: bukan munafik, tapi memang tak diambil tawaran tersebut. Mau tau tawarannya? #nomention ajalah, ntar kalo dibuka di sini nanti dianggap pembusukan karakter.

Andai saja saat itu tawaran tersebut diambil, mungkin cerita ini tak pernah ada karena kami tak akan pernah punya kesempatan untuk berbincang-bincang dan berbagi cerita.

———————————————————————–the End———————————————————————–

Advertisements
Comments
  1. hehhee nice story….satu orang menyukai ^_^

  2. TEEN_NA says:

    me too…’SUKA JUGA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s